MERAJUT IMPIAN Motivasi, Tips dan Trik Sukses Dunia Akhirat

Archives

Categories

  • Perhatian Islam pada Kesehatan Lingkungan

    Sejarah mencatat banyak kiprah yang positif bagi lingkungan saat peradaban Islam berjaya, salah satunya tergambar dalam desain bangunan karya arsitek terkemuka Turki, Mimar Sinan (wafat 1588). Sosok kepercayaan Sultan Suleiman I, Selim II, dan Murad III ini mengandalkan bahan daur ulang alami.

    Saat itu, seperti terdapat dalam laman www.muslimheritage.com, Sinan sudah bisa menciptakan alat penggantang asap serta memanfaatkan telur burung unta untuk mengusir serangga dan laba-laba di pojok-pojok bangunan. Dia juga menginspirasi pemilik rumah untuk memanfaatkan lahan yang luas bukan untuk bangunan saja, melainkan perlu keseimbangan dengan meletakkan tetumbuhan.

    Sementara untuk memenuhi kebutuhan pengairan, Sinan menemukan sistem pengaturan air bergulir berupa dam dan qanat. Dia menggunakan mesin untuk membuat alat minum otomatis bagi hewan. Sinan juga memanfaatkan angin serta air untuk menggerakkan kincir pembangkit energi.

    Berkat inovasi dan kreativitasnya, kekhalifahan Turki Utsmani memercayakan setiap proyek bangunan kota pada Sinan. Tak ayal, selama 50 tahun, ribuan bangunan di Turki telah dihasilkan dari tangan dinginnya.

    Rahasia ilmu Sinan ternyata berasal dari nilai tradisi Islam dan Turki tradisional, seperti yang terlihat dari kekhasan lampu Turki karyanya. Dia sengaja meletakkan telur burung unta di tengah lampu minyak. Serangga pun kabur dari ruangan itu. Sarang laba-laba pada bangunan Turki pun tak pernah ada. Kelak, setelah ratusan tahun, diketahui jika penyebab terusirnya serangga tadi karena zat kimiawi telur.

    Inovasi Sinan juga terlihat dari caranya mensterilkan udara dari polusi. Ia menggunakan teknik tertentu untuk menjaga kesegaran udara di Masjid Süleymaniye yang dibangunnya medio 1550-1557.

    Masjid yang dibangun atas titah Sultan Suleiman I itu mempunyai sebuah ruangan sterilisator jelaga yang terletak di pintu utamanya. Ruangan ini untuk menjaga kondisi ruang utama yang dipenuhi lampu minyak dan lilin-lilin sebagai pusat penerangan utamanya. Pasalnya, asap serta karbondioksida yang dihasilkan harus dikeluarkan.

    Sinan dan rekannya menggunakan prinsip aerodinamis sebagai sirkulator udaranya. Ruang berjelaga tadi berfungsi sebagai tempat penyaring asap. Jelaga hitam dikumpulkan lalu dimanfaatkan kembali sebagai tinta tulis kaligrafi. Konon, tinta jelaga ini juga sebagai pengawet buku dari serangan rayap.

    Hal yang sama dilakukan oleh para murid Sinan. Salah satunya Sedefhar Mehmet Aga yang dipercaya membangun Masjid Sultan Ahmed di Istanbul. Masjid-yang dibangun medio 1609-1616 atas permintaan Sultan Ahmed I-ini menggunakan sirkulasi udara serupa.

    Contoh teknologi tepat guna lainnya saat itu adalah mesin penangkap angin. Alat ini bernama Bâdgir dalam bahasa Persia atau Barjil dalam bahasa Arab. Barjil dikenal sebagai peralatan tradisional di jazirah Arab. Fungsinya sebagai ventilator udara sebuah bangunan. Meski tak diketahui penciptanya, alat ini masih sering dipakai pada bangunan-bangunan Timur Tengah, Pakistan, dan Afghanistan. Bentuknya pun sudah mengalami modifikasi.

    Keberadaan barjil sangat membantu penduduk di kawasan yang mempunyai cuaca dan temperatur udara siang-malam yang ekstrem. Pergantian udara juga didukung dengan penggunaan keramik tipis untuk mengurangi uap panas dari pasir gurun.

    Tembok serta langit-langit bangunan memaksimalkan ruang tinggi. Sementara sengatan panas mentari diminimalisasi dengan bentuk jendela yang relatif mungil.

    Konsep menara angin atau burj al-hawa’ masih banyak diterapkan pada desain bangunan modern negara jazirah Arab. Semuanya diproduksi perusahaan United Arab Emirates Al-Borj Al-Kashteel. Bentuknya pun masih merunut bangunan aslinya yang berstruktur tinggi dan terbuka memanjang di semua sisinya. Sedangkan, dinding dalamnya mendatar agar udara bebas keluar masuk saat musim panas tiba. Baru di musim dingin, ruangan menara angin tak difungsikan. Dari kekhasan fungsinya, Al Barjil pun menjadi simbol arsitektur Arab.

    Lingkungan dan kedokteran
    Pada era kuno dan pertengahan, perbincangan terkait masalah-masalah lingkungan sudah tersebar luas di kalangan terdidik. Mereka mendiskusikan satu topik tentang perlindungan kesehatan, terutama penanganan terhadap penyebaran wabah penyakit yang tengah menjadi fenomena kala itu.

    Literatur utama yang beredar saat itu ditulis dalam bahasa Yunani. Kemudian, sebagian besar karya Hippocrates dan Galen itu diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada abad ke-9. Sentuhan tradisi pengobatan Muslim dikembangkan untuk mengatasi keluhan akibat pencemaran lingkungan. Salah satunya dengan teknik hisba di bidang pengontrolan higienitas pasar dan industri.

    Pada masa ini terbit pula bermacam buku yang membahas peraturan dan hukum perlindungan hak kesehatan pekerja dan standar bangunan yang ramah lingkungan. Beberapa artikel berbahasa Arab pada abad ke-9 hingga ke-13 juga membahas berbagai penyakit endemis dan epidemik akibat paparan pencemaran lingkungan. Sejarawan Lutfallah Gari menemukan sekitar 20 buku yang berisi bahasan tersebut, di antaranya karya al-Kindi dan Qusta ibnu Luqa (abad ke-9 hingga ke-10)

    Al-Kindi yang lahir pada 873 ini tertarik menulis tentang pencemaran udara, begitu pula cara mengatasi dampak buruknya. Karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, seperti buku Penyebab Keracunan itu Bernama Epidemik, Penawar dari Bau Berbahaya, dan Perlindungan bagi Atmosfer untuk Melawan Epidemik Penyakit. Ahli kesehatan lainnya, al-Tamimi, juga mengutip dari tujuh halaman karya al-Kindi.

    Tersebut pula nama Qusta ibnu Luqa yang populer pada 912 sebagai sarjana yang menerjemahkan karya-karya ilmuwan kedokteran. Sebanyak dua tulisan tentang perawatan awal penyakit dan penanganan kesehatan bagi musafir serta jamaah haji sudah dibukukan.

    Dia menyebutkan penyebaran penyakit berpindah dari tubuh orang sakit ke tubuh orang yang sehat. Disertakan pula beragam pola paparan penyebaran penyakit, mulai dari udara hingga infeksi. “Kondisi udara sekitar bisa memberi pengaruh berbeda-beda pada setiap tubuh,” jelas Qusta.

    Kemudian, Muhammad al-Razi yang wafat pada 925, dikenal sebagai sarjana dan penulis ensiklopedia sistem kedokteran yang juga tertarik mempelajari masalah lingkungan sebagai penentu kesehatan bagi tubuh manusia. Beberapa bukunya mendalami hal itu, seperti Paparan Kronis Penyakit Saat Musim Bunga Bermekaran, Berbagai Alasan Udara Panas Membinasakan Hewan, Risala fi ‘l-miyah (Paparan Penyakit Akibat Air), dan Al-Risala al-waba’iya (Epidemis Penyakit). Berbagai karya ini masih berupa manuskrip asli yang belum diedit. Beberapa mahasiswa kedokteran telah menemukannya di beberapa perpustakaan khusus.

    Pengarang tentang penyakit epidemis lainnya adalah Ibn al-Jazzar. Warga negara Tunisia ini sebelum wafat pada 980 telah menulis dua buku, di antaranya Epidemis Penyakit di Mesir dan Metode Pencegahan dan Pengobatan.

    Hasil karyanya dikritik ahli kedokteran Ali ibn Ridwan. Menurutnya, pengamatan Ibn al-Jazzar kurang menyeluruh. Kecuali pembahasan terkait ekstrasi yang dikutip oleh al-Tamimi dan Ibn Ridwan. Al-Tamimi mengutip tentang komposisi dosis tiga obat sirup sebagai pencegahan terhadap serangan penyakit pada suatu komunitas. Sedangkan, Ibn Ridwan mengutip tentang beberapa hal terkait lingkungan yang belum dia ketahui.

    Bagaimanapun, Ibn al-Jazzar ditahbiskan sebagai penulis pertama tentang geografis medis. Buku-bukunya detail menyebutkan kondisi lingkungan di kota-kota tertentu. Para penerus genre ini, antara lain, Ali ibn Ridwan, Ibn Jumay, Ya’qub al-Isra’ili, dan Abdullatif al-Baghdadi.

    Tersebut pula seorang sarjana asal Yerusalem, Muhammad al-Tamimi. Keberadaannya di abad ke-10 memberi kontribusi tentang kesehatan lingkungan. Karyanya, Madat al-baqa’ bi-islah fasad al-hawa’ wa-’l-taharruz min dharar al-waba’ (Cara Bertahan di Tengah Udara Bermasalah dan Menghindari Epidemis Penyakit), menjadi sebuah ensiklopedia terlengkap tentang pencegahan penyakit.

    Ada pula Abu Sahl al-Masihi dan Ibn Sina pada abad ke-10 dan ke-11. Meskipun Abu Sahl Isa ibn Yahya al-Masihi awalnya seorang ahli kesehatan kristiani dari Gorgan, Iran, tapi kontribusi terbesarnya tercatat saat menjadi Muslim. Dialah guru dari guru besar kedokteran Ibnu Sina. Dia menulis ensklopedia tentang perawatan tubuh terhadap penyakit dalam 100 bab, Al-ma’a fi-l-Sana’a al-tabi’iyyah. Dia juga menulis Risala fi Tahqiq ‘Amr al-waba’ wa-’l-ihtiraz Minhu wa-’Islahuhu Idha Waqa’ (Investigasi pada Epidemik di Lingkungan, Sebuah Pencegahan dan Penanganan). ed: asep nur zaman

    http://koran.republika.co.id/koran/36

    Random Posts

    No Comments

Leave a Reply

Spam Protection by WP-SpamFree