-
Momentum Tahun Baru Hijriyah untuk memperbaiki diri.
No CommentsPara pemimpin dan masyarakat Indonesia diharapkan bisa menjadikan momentum Tahun Baru Hijriyah untuk memperbaiki diri. Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah yang menjadi awal penanggalan Hijriyah ini memiliki esensi untuk melakukan perubahan besar.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj mengingatkan bahwa umat Islam mempunyai sejarah gemilang yang seharusnya bisa mengembalikan lagi semangat tamadun yang pernah dibangun Rasulullah. Ia mengajak para pemimpin negeri ini untuk introspeksi diri terhadap segala perilaku korupsi.
”Kalau masih ada pejabat atau pemimpin Muslim yang korupsi, maka hal itu sama saja mencoreng martabat umat Islam secara keseluruhan,” ujar Said kepada Republika, Jumat (25/11).Hikmah lain yang terkandung dalam hijrah Rasulullah ke Yastrib adalah untuk membangun peradaban, budaya, moral serta kebersamaan. Rasul, kata Said, juga membuat tatanan kehidupan di tempat baru itu dengan menjunjung tinggi hukum di atas segalanya. Karena itu, ia menyerukan agar para pemimpin dan umat Islam tetap optimistis menatap masa depan Indonesia yang lebih baik.
Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ichwan Syam mengatakan simbol-simbol yang telah dilakukan Nabi sewaktu hijrah hendaknya bisa ditiru umat Islam masa kini. Rasul mengalami banyak masalah sebelum hijrah yang kemudian bisa dituntaskannya di Madinah. Bangsa Indonesia pun sedang menghadapi banyak masalah yang diharapkannya bisa diselesaikan pula dengan cara berhijrah.
Sementara, Ketua Forum Ulama Umat Islam (FUUI) Athian Ali Da’i menyatakan peristiwa hijrah memiliki esensi untuk melakukan perubahan besar dalam kehidupan umat Islam saat itu. Perubahan yang membawa masyarakat dari zaman jahiliyah ke era kejayaan Islam. Karena itu, semangat tahun baru Hijriyah ini sudah sepatutnya menjadi landasan bagi umat dan tokoh Islam untuk memperbaiki kualitas diri.
Athian meyakini keterpurukan bangsa tak lepas dari kualitas umat Islam yang masih rendah. Sebagai penduduk mayoritas di Indonesia, umat mestinya memiliki peran pembangunan negeri yang lebih besar. Apalagi, banyak tokoh Islam di Tanah Air yang menduduki posisi penting di negara ini. ”Sayangnya, mereka justru larut dalam urusan duniawi sehingga keinginan untuk membawa umat ke arah yang lebih baik masih sangat kecil.”
Menurut Athian, banyak tokoh Islam yang berada dalam lingkaran politik praktis. Namun, sikap dan perilaku mereka dalam berpolitik belum mencerminkan nilai-nilai yang Islami. Ironisnya, sepak terjang mereka menjadi tontonan umat sehingga umat kehilangan tokoh yang menjadi panutan. Akibatnya, umat semakin kehilangan figur panutan yang benar-benar berpegang pada nilai-nilai iman dan Islam.
Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Syamsul Hadi Abdan menegaskan Tahun Baru Islam perlu dimaknai sebagai momentum memperbaiki akhlak. Saat ini umat memang telah menyebar ke seluruh penjuru dunia, namun akhlak mereka belum tentu bersifat mahmudah. ”Mari sama-sama kita tingkatkan kualitas akhlak,” serunya.
Syamsul mengatakan akhlak umat harus mencontoh Rasulullah karena Nabi diciptakan dan dikirim ke muka Bumi sebagai suri teladan atau uswatun hasanah bagi alam raya. Sebagai lentera di tengah kegelapan, Rasul adalah pembimbing yang mengarahkan manusia menuju ridha Ilahi. Dengan berakhlak seperti Nabi, seseorang tidak mungkin berkhianat terhadap bangsanya dan justru akan mengaktualisasikan diri untuk kemaslahatan manusia.
Pergantian tahun ini, dikatakan Syamsul, juga momentum hijrah menuju kebaikan. Seseorang perlu memaknainya sebagai momentum evaluasi apa yang pernah dilakukannya. Jika seluruh Muslim melakukan ini, dipastikannya tidak ada kejahatan yang merugikan negara. Pembangunan akan berjalan tidak hanya pada aspek materiil, tapi juga spiritual.
Syamsul juga mengimbau agar pergantian tahun ini dimanfaatkan pula untuk berzikir mengagungkan keesaan Allah SWT. Masyarakat harus merenungkan arti tauhid agar muncul ketakwaan. Hanya takwa kepada Tuhanlah yang membuat seseorang tidak mengabaikan dunia dan akhirat.
http://republika.co.id
Random Posts
Published on November 26, 2011 · Filed under: Muharram; Tagged as: cara memperbaiki diri pada tahun baru hijrah, cara menyikapi tahun baru hijriyah, hijrah dari kekikiran, hijrah dari kesombongan, hijrah dari pendusta, hijrah darikorupsi, saat tepat memperbaiki diri di bulan muharram, tahun baru hijriyah tahun perubahan

















Recent Comments