-
Memotret Nasib Guru (Bagian 1)
No CommentsSepasang mata Ngoson Di’ong (50 tahun) berkaca-kaca ketika menceritakan kisah hidupnya yang getir sebagai guru. Gelombang suara guru TK dan SD di Kecamatan Long Aparai, Kutai Barat, Kalimantan Timur, ini tak beraturan, seperti bergetar ketika menuturkan betapa kerasnya perjuangan hidupnya.
Setiap hari wanita dengan tinggi 150 sentimeter ini bangun tidur pukul 05.00 pagi. Pekerjaan pertamanya adalah menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Ditemani segelas kopi, Ngoson membaca catatan persiapannya untuk mengajar berhitung. Persiapan mengajar itu dibuatnya sejak malam hari, bukan di bawah terangnya lampu pijar, tetapi hanya ditemani lampu obor yang menjadi lentera di gelapnya malam.
Di bawah temaram cahaya obor itulah, Ngoson menggoreskan penanya menuliskan persiapan mengajar. Dua buku menjadi bahan dasar baginya untuk mengajar. Butuh 30 sampai 60 menit untuk menyiapkan bahan pelajaran itu. Setelah dirasa selesai, dia pun tidur.Setelah persiapan mengajar dibaca kembali pada pagi harinya, Ngoson melangkahkan kaki menuju sekolah TK dan SD yang berjarak puluhan meter dari rumahnya. Mulai pukul 07.30 WITA, dia mengajar hingga pukul 12.30. Selepas itu, dia kembali ke rumah untuk makan siang dan melepas penat selama 10-20 menit.
Sekitar pukul 13.00, Ngoson tak lagi berpakaian batik. Tubuhnya ganti dibalut pakaian berlengan panjang dan celana panjang atau training. Tangannya pun tak lagi menenteng buku, melainkan sebilah celurit. Kali ini dia tidak lagi bertugas mengajar, tetapi mengarit.
Dia datangi lahan dan perkebunan milik warga di Kampung Tiongbu’u, tepat di pinggiran Sungai Mahakam, di wilayah yang dekat perbatasan dengan Malaysia.
Rumput dan lalang yang mendayu tertiup semilir angin lantas dibabatnya. “Terkadang saya cabut,” ujar Ngoson ketika ditemui di Gedung DPR, Jumat (25/11). Ngosong bersama sejumlah guru lainnya menemui anggota DPR untuk mengisahkan berbagai pengalamannya sebagai guru tepat pada Hari Guru Nasional yang jatuh setiap tanggal 25 November.
Hingga sore hari, Ngoson mengarit. Uang yang dikantonginya dari hasil mengarit bisa mencapai Rp 50 ribu. Namun, apalah arti uang sebanyak itu bagi wanita berambut lurus sebahu ini? Tak setiap hari dia bisa melakukan itu. Hanya ketika ada orang yang memintanya membersihkan ladang, barulah wanita ini turun tangan mengarit rumput. Jika tidak ada, pekerjaan sampingan lain diburunya.
Terkadang, Ngoson ikut mendulang emas di Sungai Mahakam. Ini pun belum tentu menguntungkan. Beberapa kali dalam sepekan dia mendulang. Namun tak ada bijih emas yang menghampiri alat penjaring emasnya itu. Pernah dia mendapatkan setengah gram emas, yang dijual kepada pengumpul dengan harga yang tak seberapa.
Sejak 1988, Ngoson mengabdikan dirinya sebagai guru. Hampir 13 tahun dijalaninya profesi itu, tetapi status guru bersertifikasi belum juga didapatnya. Penghasilannya setiap bulan pun habis untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Dalam sebulan, penghasilan yang diterimanya sebesar Rp 3 juta. Padahal, biaya hidup sehari-hari di wilayah perbatasan cukup tinggi. Apalagi, tak ada transportasi umum di sana.
Kampung Tiongbu’u, tempat tinggalnya, terletak di pinggiran Sungai Mahakam yang tertutup hutan nan hijau. Dari kampungnya ke kampung lain, seseorang mesti menempuh perjalanan sejauh puluhan kilometer. “Sangat jauh memang, tapi itu sudah risiko yang tak terhindarkan,” tuturnya.
Anggota Komisi X DPR Zulfadhli mengakui nasib guru seperti Ngoson yang mengajar di pedalaman memang masih banyak. Mereka kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kondisi lingkungan yang serbaberat menambah beban kewajiban untuk mencerdaskan anak didik di daerahnya. “Pekerjaan itu menjadi berat terasa,” kata Zulfadhli.
Akibatnya, ucap politikus Partai Golkar ini, mengajar menjadi tidak fokus. Guru tak sempat mengembangkan potensi dirinya karena terus terjerat dalam masalah rutin bagaimana agar bisa bertahan hidup. Fakta ini dianggapnya sebagai bukti bahwa pemerintah masih mengabaikan nasib guru di pedalaman maupun wilayah perbatasan. “Bahkan masih banyak yang tunjangan mereka belum dibayar.”
Guru memang pahlawan tanpa tanda jasa, tapi tidak berarti mereka bisa ditelantarkan. Zul meminta pemerintah terus memerhatikan nasib guru. Bahkan, ini juga menjadi kewajiban semua kalangan di negeri ini. Karena, nasib generasi penerus masa depan bangsa ini terletak di tangan mereka.
Nasib guru Ngoson, kata Zul, juga cermin ketidakseriusan pemerintah memerhatikan nasib pendidikan di wilayah perbatasan. Tragisnya, ini tidak hanya terjadi di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, tapi juga di daerah perbatasan dengan negara lainnya, seperti Timor Leste dan Papua Nugini.
Masalah tunjangan guru belum tuntas, masih ada persoalan status guru yang belum diangkat menjadi PNS. “Semua itu terjadi di wilayah perbatasan,” ungkap Zul.
Direktur Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Sumarna Surapranata mengakui kondisi guru di perbatasan yang memprihatinkan. Namun, dia membantah pemerintah berlepas tangan. “Kita beri mereka tunjangan,” kata Sumarna.
Tunjangan tersebut diberikan sekali dalam tiga bulan sebesar satu bulan gaji. Tunjangan ini, ujar Sumarna, bentuk kepedulian pemerintah terhadap kerja keras mereka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Guru bisa memeriksa langsung apakah tunjangan untuknya sudah dicairkan atau belum dengan mengakses nomor 083875730023. Semua keluhan guru terkait tunjangan dilayani melalui nomor itu.
http://republika.co.id:8080/koran/14/148649/Mengajar_Hingga_Mengarit_Rumput
Random Posts
Published on November 26, 2011 · Filed under: Pendidikan; Tagged as: cara memperhatikan nasib guru, cerita perjalanan guru di daerah terpencil, kisah perjuangan guru terpencil, melihat nasib guru masa kini, Nasib Guru di hari Guru, nisib guru di Kalimantan, perjuangan Guru, perjuangan guru pahlawan tanpa tanda jasa, profil nasib guru di pelosok desa

















Recent Comments