MERAJUT IMPIAN Motivasi, Tips dan Trik Sukses Dunia Akhirat

Archives

Categories

  • Siapa Lansia itu? Cara Bergaul dengan Lansia

    LANSIA, Siapa Dirimu?
    Ketika kemampuan biologis mulai turun karena sakit-sakitan, lansia mulai merasakan beberapa kehilangan.

    Simbah, begitu sapaannya, sudah berusia 90 tahunan. Alfiah, nama sebenarnya, tinggal bersama pembantu di Magelang, Jawa Tengah. Semen tara anak, cucu, dan buyut nya tinggal jauh. Salah satu cucunya, Evi Triana (39 tahun), dan ibunya—anak Simbah—menetap di Bandung.

    “Simbah sesepuh yang tinggal satu-satunya. Makanya, ibu saya selalu wanti-wanti kepada anak-anak, menantu, dan cucu-cucu wajib sowan setiap Lebaran ke Magelang. Lebaran nanti pun kita sudah pasti bakal menengok Simbah,” tutur Evi.

    Simbah tipe nenek mandiri. Ia tak mau tinggal menumpang anak atau cucunya. Di masa mudanya, Simbah terbilang aktif. Selain urusan rumah tangga, mendampingi suami, ibu tujuh anak—lima keguguran—ini paling senang menjahit pakaian dan menyulam. Tapi, kini kemampuan penglihatannya berkurang. Simbah meninggalkan hobinya.

    Simbah senang sekali saat anak hingga buyut berkumpul. Sudah pasti, kata Evi, Simbah bakal bercerita pengalaman di masa lalu. Masa penjajahan dan saat menemani suaminya, polisi yang ikut berjuang. “Tapi ya begitu, sebetulnya cerita Simbah selalu diulang-ulang,” ujar Evi, “Tapi, kita sih senang saja mendengarkannya.”

    Kapasitas fisik
    Simbah Alfiah pastilah sudah lansia. Namun, lansia bermacam kategorinya. Siti Setiati, pakar geriatri, menyebutkan, secara kronologis (sesuai KTP) orang dikatakan telah memasuki usia lanjut jika telah ber umur 60 tahun, sementara World Health Or ganization (WHO) menetapkan usia 65 tahun. Sementara dengan pendekatan psikologi, setiap orang akan berbeda karena ditunjang adanya perbedaan sisi biologis yang ber sangkutan.

    Berkat kemajuan zaman, gizi yang semakin baik membuat orang sudah tua terlihat awet muda. “Sekarang semua teknologi membuat aktivitas menjadi lebih mudah dan membuat orang menjadi lebih sehat,” tutur psikolog keluarga Elly Risman. Teknologi kesehatan yang modern ini juga yang turut memengaruhi adanya perbedaan kategori lanjut usia dulu dan sekarang.

    Lansia tetap tak bisa bertahan muda. Dari fisiknya, Siti Setiati mengungkapkan, ciri-ciri lansia adalah penurunan berbagai fungsi organ, seperti ginjal, paru-paru, dan jantung. Selain itu, kapasitas cadangan tubuh juga menurun. “Ketika berjalan, mungkin ketika disandingkan dengan anak muda, tak ada bedanya. Tapi kalau diajak berlari, akan terlihat jika kapasitas cadangan tubuhnya berkurang.”

    Hal ini juga terkait stres atau beban yang diterima, baik secara fisik maupun mental. Daya ingat yang menurun juga salah satu bentuk penurunan kapasitas cadangan tubuh. Itu merupakan ciri bahwa kemampuan untuk beradaptasi mulai berkurang.

    Dari wawancara Siti terhadap pasiennya, ia menyimpulkan, ketika kemampuan biologis mulai menurun karena sakit-sakitan, lansia mulai merasakan beberapa kehilangan, mulai dari kehilangan kemampuan mendapatkan uang, kehilangan harga diri karena mereka mungkin umumnya terdiri atas pensiunan, hingga kehilangan rasa hormat dari orang lain.

    Semakin berusia lanjut, orang juga perlahan akan merasakan kehilangan secara sosial. “Mereka kehilangan teman, baik itu istri, suami, anak, maupun teman kumpul atau mengobrol lainnya,” jelas dia.

    Kakek dan nenek
    Secara psikologis, menurut Elly, perubahan yang terjadi pada pria dan wanita lanjut usia pada dasarnya berbeda. Pada wanita, ketika se seorang memasuki masa usia lanjut, hor mon esterogen dan progesteron semakin me nyusut. Hal itu membuat seseorang menjadi gampang sedih dan emosi menjadi lebih labil. Namun pada pria, hormon yang biasanya cenderung menyusut adalah hormon testosteron.

    Ia menyebutkan, untuk pria biasanya yang terjadi ketika mereka berusia lanjut, contohnya adalah ketika makan ingin lebih berasa. Hal ini bertolak belakang dengan wanita usia lanjut yang cenderung malas memasak. Jadi, pengaruhnya lebih kepada kehidupan emosional, tambah Elly.

    Ketua pelaksana pada Yayasan Kita dan Buah Hati ini mengatakan, masa lalu yang tidak bahagia juga turut memberikan pengaruh di usia yang mulai senja. Itu sebabnya, menu rut dia, banyak orang lanjut usia atau nenek-nenek yang rewel dengan segala sesuatu yang dilakukan oleh cucu, menantu, atau bahkan anaknya sendiri.

    Menurut Elly, di lapangan masyarakat kerap kurang menyadari dan mengerti hal tersebut. Ketika menemui nenek yang begitu rewel ini salah, itu salah seharusnya anak atau menantu banyak-banyak memberikan pelukan atau ciuman. Bukannya nenek malah dihindari atau bahkan direwelin balik, ujarnya sembari tertawa.

    Memiliki nenek yang rewel atau bawel seharusnya membuat para cucu atau anaknya aktif men cari asal usul ketidakbahagiaan itu. Misalnya, kita dekati ibu, tanya atau minta diceritakan bagaimana dulu kisah-kisah saat dia masih muda, tutur Elly. Namun sedihnya, ia melihat kebanyakan anak zaman sekarang jarang yang mau aktif menanyakan hal-hal seperti ini.

    Psikolog Indah Soca juga mengingatkan para anak-cucu untuk berupaya memahami bahwa dunia lansia berkiblat pada masa lalu. Masa depan sudah tidak penting lagi bagi mereka, katanya. Karena itu, bila bercerita nenek pasti akan mengulang-ulang pengalaman masa lalu.

    Didengarkan termasuk kebutuhan nenek yang sulit dipenuhi kata Indah. Padahal mendengarkan bagi nenek sebagai representasi dari bentuk perhatian serta harga diri, yaitu merasa dianggap penting oleh anak atau cucu. c04 ed: nina chairani

    Berkah Keberadaan Kakek dan Nenek

    Di daerah perkotaan telah terjadi pergeseran persepsi di kalangan muda terhadap lansia. Mereka merasa meng hormati dan menjaga nenek hanya sebatas kewajiban. Temuan itu diperoleh sosiolog Universitas Indonesia, Dr Ida Ruwaida, dari pengamatan terhadap kaum muda berusia 15 tahun hingga 24 tahun.

    Kaum muda ini melihat kontribusi lansia terhadap keluarga relatif terbatas. Mereka melihat kontribusi ekonomi para lansia sudah tak bisa diharapkan. Kalau bicara, lansia sudah tak nyambung karena orientasinya berbeda, lebih banyak ke urusan akhirat. Gerakannya lebih lamban sehingga dijuluki lemot. Kontribusi yang serba berkurang ini, makanya kehadiran lansia hanya dianggap memberatkan.

    Alasan-alasan itulah yang menimbulkan ketidakserasian antara lansia dan orangorang di rumah, kata Ida. Dan, penghargaan terhadap mereka pun minimalis.

    Andaikan bisa diandalkan bagi keluarga muda, mereka melihat nenek hanya menjadi day caregratis alias menjaga cucu di rumah. Kalaupun nenek akan dijadikan daycaregratis, kita harus tetap menghargai nilai-nilai yang dibutuhkan lansia.

    Lansia memiliki kebutuhan dalam hidupnya, di antaranya teman mengobrol, curhat, jalan-jalan, atau pengajian. Mereka juga perlu pengakuan eksistensi dirinya.

    Kalangan muda kurang bisa memenuhi kebutuhan ini, terutama mereka yang hidup di perkotaan. Mereka sibuk dengan kehidup annya masing-masing, paparnya. Oleh karena itu, pada konteks tertentu, untuk memenuhi kebutuhan lansia tersebut ada keluarga yang menitipkan nenek ke panti jompo. Di panti, nenek akan memiliki teman sesama lansia. Walaupun begitu anak-anak harus tetap memberi perhatian penuh dan memastikan pemenuhan kebutuhan fisik dan psikisnya.

    Dari pengamatan terhadap teman-teman yang telaten mengurus orang tuanya dengan hati, Ida melihat mereka mendapat berkah yang berbeda. Berkah tak selalu berwujud harta. Berkah itu menjadikan keluarga lebih harmonis, dimudahkan segala langkahnya, mereka sehat-sehat dan bahagia, katanya. Percayalah, doa orang tua memudahkan jalan kebaikan bagi kaum muda. Kesempatan ini yang mungkin akan hilang jika nenek ditaruh di panti. susie evidia y ed: nina ch

    Related Post

    No Comments

Leave a Reply

Spam Protection by WP-SpamFree