-
Mengatasi Anakku yang Menangis Minta Jajan
No CommentsSudah menjadi agenda rutin, anakku Muflih, 2.8 tahun mengajakku untuk mengantarnya jajan setiap saya pulang kerja. Sebentar lagi waktu dhuhur tiba. Saya segera mengambil air wudhu dan pergi ke masjid bersamanya. Karena sudah adzan, saya mengajaknya untuk jajan di kantin pondok yang hanya berjarak 10 meter dari masjid. Anakku menolaknya. “ ana saja” pinta anakku sambil menunjuk ke warung yang berada di luar area pondok.
Memang setiap hari, anakku lebih memilih untuk jajan di warung itu bersama khodimah (pengasuh). Mungkin karena makanannya yang lebih bervariasi. “dikantin aja dek. Sini juga ada”. kataku berusaha meyakinkannya.” Ana aja, sini gak ada”, bentak anakku sambil mulai menangis. Beberapa kali saya berusaha membujuknya. “tuh kan dah komat. Sholat dulu ya?”. Usahaku lagi-lagi menemui kegagalan. Bahkan tangisannya semakin keras.
Ibu kantin yang melihatnya merasa kasihan dan berusaha mengantarkannya ke warung.” Yuk ibu antar, mau jajan disana ya? “. Kata ibu dapur sambil mengangkat kedua tangannya pertanda mau menggendong. “ ama papa aja”, jawab anakku sambil menepis tangan ibu kantin. Tidak hanya ibu kantin, santri yang sedang lewatpun tidak mau ketinggalan mencoba menenangkannya. Namun semuanya belum ada yang berhasil.Ketika sholat dhuhur sudah dimulai, saya segera menuju ke masjid sambil menggendongnya. Dia minta turun dan berusaha menghentikan langkahku dengan mendekap pahaku dengan kuat. Saya berhasil melepaskan dekapannya dan mulai melaksanakan sholat. Saya tidak menghiraukan tangisannya.
Saya mengira, bahwa anakku akan semakin keras tangisannya, apalagi banyak santri yang meledekinya. tapi ternyata, tangisannya malah mereda. Setelah selesai sholat sunnah ba’diyah, saya keluar dari masjid dan mengajak anakku menuju ke kantin. Satu persatu saya tunjukkan snack yang biasa dibeli anakku. Dia menolak semua tawaranku dan menunjuk susu kotak rasa strawbery yang berjajar rapi di rak kantin.
Ternyata “perkelahian” dengan anakku hari ini ku menangkan. Senjata tangisan yang biasa dia pakai untuk meluluhkan hatiku tidak mampu menembus komitmenku.
Bukannya saya tidak mau menuruti kemauan anak untuk jajan ke warung, tapi saya ingin menanamkan sejak dini kepada anak, bahwa shalat harus didahulukan dari aktifitas apapun. Ibadah kepada Allah harus didahulukan dari mengurusi kepentingan dunia, termasuk kepentingan anak sendiri. Walaupun memang masih saya akui, kadang saya masih kalah dan mendahulukan kepentingan keluarga. Beberapa kali saya terlambat shalat jama’ah
Saya sadar, ini tidak boleh berlanjut terus. Harus segera di atasi. Saya tidak boleh selalu kalah dengan anak gara-gara dia menangis. Apalagi jika sampai mengalahkan kepentingan ibadah kepada Allah.
Jika kita komitmen dan konsisten dengan pendirian kita, maka insyaAllah anak tidak akan menjadi anak yang egois, yang selalu harus dituruti kemauannya. Anak akan semakin paham kapan dia boleh menangis dan kapan tidak boleh menangis. Anak juga akan mengerti apa yang harus dilakukan seseorang ketika waktu shalat telah tiba.
Wallahu a’lam.Random Posts
Published on January 16, 2011 · Filed under: My Memory; Tagged as: cara mengalihkan perhatian anak yang menangias, cara mengatasi anak menangis, cara menghentikan anak menangis, jika anak memaksa sambil menangis, jika anak menangis minta jajan, ketika anak tidak dituruti menangis, menangis adalah senjata anak, mengapa anak menangis, mengatasi anak menangis

















Recent Comments