MERAJUT IMPIAN Motivasi, Tips dan Trik Sukses Dunia Akhirat

Archives

Categories

  • 10 KIAT DAN TIPS MENJADI ORANG YANG SABAR


    Kesabaran saya Hari ini teruji. yaitu ketika jam II saya memasuki kelas XI IPA 1, belum sempat mengucapkan salam dan duduk, para siswi sudah protes. “kok bapak yang ngajar”, “sekarang pelajaran Tafsir pa”, “bosen di ajar bapak terus”. ucapan terakhir beberapa siswi inilah yang membuat saya marah. kemarahan tidak saya tampakkan dengan kata-kata ataupun bentakan. tapi saya langsung keluar kelas sambil mengucapkan,’ ya udah kalau tidak mau saya ajar gak apa-apa. masih banyak yang membutuhkan saya.

    Memang pekan ini terjadi perubahan jadwal dan pengajar. makanya saya langsung meng-SMS Kurikulum dan Kepsek menginformasikan kejadian tadi. bahkan saya mengatakan,’kalau mereka tidak meminta maaf, saya tidak sudi memberi nilai kepada mereka.


    Saya mencoba untuk tenang dan mencari faktor penyebab mereka protes. sambil terus berfikir saya membuka internet dan mengetikkan keyward “sabar”. satu persatu saya kunjungi blog yang tertera disitu. dan saya menemukan yang tadi saya cari.” 10 kiat menjadi orang sabar“. saya langsung tersadar dan membuang ke-egoan saya untuk membenci mereka. walau berat untuk bersabar, tapi harus saya lakukan.

    sebagai pembelajaran bagi anda juga yang ingin menjadi orang yang sabar, baca terus kiat-kiat menjadi orang yang sabar di bawah ini.

    1. Mengetahui tabiat kehidupan dunia dan kesulitan dan kesusahan yang ada disana, sebab manusia memang diciptakan berada dalam susah payah, sebagaimana firman Allah: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. (QS. 90:4)

    2. Beriman bahwa dunia seluruhnya adalah milik Allah dan Dia memberinya kepada orang yang Dia sukai dan menahannya dari orang yang disukaiNya juga.

    3. Mengetahui besarnya balasan dan pahala atas kesabaran tersebut. Diantaranya:
    a. Mendapatkan pertolongan Allah, sebagaimana firmanNya: Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. 2:249)
    b. Mendapatkan sholawat, rahmat dan petunjuk Allah, sebagaimana firmanNya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:”Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 2:155-157)

    c. Sabar adalah kunci kesuksesan seorang hamba, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firmanNya: Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (QS. 3:200).

    4. Yakin dan percaya akan mendapatkan pemecahan dan kemudahan sebab Allah telah menjadikan dua kemudahan dalam satu kesulitan sebagai rahmat dariNya. Inilah yang difirmankan Allah: Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. 94:5-6)

    5. Memohon pertolongan kepada Allah dan berlindung kepadaNya, karena Allah satu-satunya yang dapat memberikan kemudahan dan kesabaran.

    6. Beriman kepada ketetapan dan takdir Allah dengan meyakini semuanya yang terjadi sudah merupakan suratan takdir. Sehingga dapat bersabar menghadapi musibah yang ada.

    7. Ikhlas dan mengharapkan keridhoan Allah dalam bersabar. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya: Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabbnya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rejeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (QS.Al Ra’d 13:22)

    8. Mengetahui kebaikan dan manfaat yang ada dalam perintah dan keburukan yang ada dalam larangan.
    Ibnul Qayyim menyatakan: Apabila seorang mengetahui kebaikan yang ada pada amalan yang diperintahkan dan akibat buruk dan kejelekan yang ada pada amalan yang dilarang sebagaimana mestinya. Kemudian ditambah dengan tekad kuat dan motivasi tinggi serta harga diri maka insya Allah akan dapat bersabar dan semua kesulitan dan kesusahan menjadi mudah baginya.

    9. Menguatkan factor pendukung agama dalam setiap kali menghadapi perintah, larangan dan musibah yang ada. Hal ini dapat dilakukan dengan empat perkara:

    a. Mengagungkan Allah yang maha mendengar dan meilhat. Seorang yang senantiasa ada di hartinya pengagungan terhadap Allah, tentunya dapat bersabar dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Bagaimana Dzat yang maha agung dimaksiati padahal Dia maha melihat dan mendengar?

    b. Menumbuhkan rasa cinta kepada Allah, sehingga ia melaksanakan perintah dan meninggalkan kemaksiatan karen mencintai Allah. Demikian juga akan bersabar atas ujian kekasihnya. Hal ini disebabkan orang yang mencintai tentu akan menaati kekasihnya dan tidak ingin dimurkai serta dapat menahan diri atas semua ujian yang diberikan kepadanya.

    c. Menampakkan dan mengingat nikmat dan kebaikan Allah, sebab orang yang mulia tidak akan membalas kebaikan orang lain dengan kejelekan. Oleh karena itu mengingat nikmat dan karunia Allah dapat mencegah seseorang dari bermaksiat karena malu denganNya dan memotivasi melaksanakan perintahNya serta merasa semua musibah yang menimpanya merupakan kebaikan yang Allah karuniakan kepadanya.

    d. Mengingat kemarahan, kemurkaan dan balasan Allah, karena Allah akan marah bila hambaNya dan bila murka tidak ada seorangpun yang dapat menahan amarahNya. Sehingga dengan melihat sepuluh kiat dari kiat-kiat bersabar dalam tiga jenis kesabaran ini, mudah-mudahan dapat menjadikan diri kita termasuk orang-orang yang bersabar.

    Sumber: bukhari.or.id

    Related Post

    4 Comments

4 Responses to “10 KIAT DAN TIPS MENJADI ORANG YANG SABAR”

  1. ananda suci said on

    h1
    10. Kiat agar dapat sabar.
    Januari 8, 2008

    Ketika sabar diperintahkan Allah kepada kita semua, maka Diapun adakan sebab-sebab yang membantu dan memudahkan seseorang untuk sabar. Demikian juga tidaklah Allah memerintahkan sesuatu kecuali membantu dan mengadakan sebab-sebab yang memudahkan dan membantu pelaksanaannya sebagaimana Ia tidak mentaqdirkan adanya penyakit kecuali menetapkan obatnya. Sabar walaupun sulit dan tidak disukai jiwa, apalagi bila disebabkan kelakuan dan tindakan orang lain. Akan tetapi kesabaran harus ada dan diwujudkan. Ada beberapa kiat yang dapat membantu kita dalam bersabar dengan ketiga jenisnya, diantaranya: 1. mengetahui tabiat kehidupan dunia dan kesulitan dan kesusahan yang ada disana, sebab manusia memang diciptakan berada dalam susah payah, sebagaimana firman Allah: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. (QS. 90:4) 2. beriman bahwa dunia seluruhnya adalah milik Allah dan Dia memberinya kepada orang yang Dia sukai dan menahannya dari orang yang disukaiNya juga. 3. mengetahui besarnya balasan dan pahala atas kesabaran tersebut. Diantaranya: a. Mendapatkan pertolongan Allah, sebagaimana firmanNya: Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. 2:249) b. Mendapatkan sholawat, rahmat dan petunjuk Allah, sebagaimana firmanNya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:”Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 2:155-157) c. Sabar adalah kunci kesuksesan seorang hamba, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firmanNya: Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (QS. 3:200). 4. yakin dan percaya akan mendapatkan pemecahan dan kemudahan sebab Allah telah menjadikan dua kemudahan dalam satu kesulitan sebagai rahmat dariNya. Inilah yang difirmankan Allah: Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. 94:5-6) 5. Memohon pertolongan kepada Allah dan berlindung kepadaNya, karena Allah satu-satunya yang dapat memberikan kemudahan dan kesabaran, 6. Beriman kepada ketetapan dan takdir Allah dengan meyakini semuanya yang terjadi sudah merupakan suratan takdir. Sehingga dapat bersabar menghadapi musibah yang ada. 7. Ikhlas dan mengharapkan keridhoan Allah dalam bersabar. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya: Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabbnya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rejeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (QS.Al Ra’d 13:22) 8. Mengetahui kebaikan dan manfaat yang ada dalam perintah dan keburukan yang ada dalam larangan. Ibnul Qayyim menyatakan: Apabila seorang mengetahui kebaikan yang ada pada amalan yang diperintahkan dan akibat buruk dan kejelekan yang ada pada amalan yang dilarang sebagaimana mestinya. Kemudian ditambah dengan tekad kuat dan motivasi tinggi serta harga diri maka insya Allah akan dapat bersabar dan semua kesulitan dan kesusahan menjadi mudah baginya. 9. Menguatkan factor pendukung agama dalam setiap kali menghadapi perintah, larangan dan musibah yang ada. Hal ini dapat dilakukan dengan empat perkara: a. Mengagungkan Allah yang maha mendengar dan meilhat. Seorang yang senantiasa ada di hartinya pengagungan terhadap Allah, tentunya dapat bersabar dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Bagaimana Dzat yang maha agung dimaksiati padahal Dia maha melihat dan mendengar? . b. Menumbuhkan rasa cinta kepada Allah, sehingga ia melaksanakan perintah dan meninggalkan kemaksiatan karen mencintai Allah. Demikian juga akan bersabar atas ujian kekasihnya. Hal ini disebabkan orang yang mencintai tentu akan menaati kekasihnya dan tidak ingin dimurkai serta dapat menahan diri atas semua ujian yang diberikan kepadanya. c. Menampakkan dan mengingat nikmat dan kebaikan Allah, sebab orang yang mulia tidak akan membalas kebaikan orang lain dengan kejelekan. Oleh karena itu mengingat nikmat dan karunia Allah dapat mencegah seseorang dari bermaksiat karena malu denganNya dan memotivasi melaksanakan perintahNya serta merasa semua musibah yang menimpanya merupakan kebaikan yang Allah karuniakan kepadanya. d. Mengingat kemarahan, kemurkaan dan balasan Allah, karena Allah akan marah bila hambaNya dan bila murka tidak ada seorangpun yang dapat menahan amarahNya. Sehingga dengan melihat sepuluh kiat dari kiat-kiat bersabar dalam tiga jenis kesabaran ini, mudah-mudahan dapat menjadikan diri kita termasuk orang-orang yang bersabar.

    Macam-macam Sabar dan Keutamaannya

    Ditulis oleh Admin di/pada 28/07/2009

    Sabar adalah akhlak yang sangat mulia. Ia menjadi hiasan para Nabi untuk menghadapi berbagai tantangan dakwah yang menghadang. Berhias diri dengan sabar hanyalah akan membuahkan kebaikan.

    “Bersabarlah!”

    Demikian perintah Allah terhadap Rasul-Nya Muhammad ? di dalam Al Qur’an. Hal ini menunjukkan betapa besar kedudukan sabar kaitannya dengan keimanan kepada Allah dan kaitannya dengan perwujudan iman tersebut dalam kehidupan dan terlebih sebagai pemikul amanat dakwah. Tentu jika anda menyambut seruan tersebut niscaya anda akan berhasil sebagaimana berhasilnya Rasulullah, keberhasilan di dunia dan di akhirat. Allah berfirman:

    “Maka bersabarlah kamu sebagaimana bersabarnya orang-orang yang memiliki keteguhan dari para rasul.” (Al Ahqaf: 35)

    Sabarnya Ulul ‘Azmi

    Siapakah yang dimaksud oleh Allah dengan ulul ‘azmi yang kita diperintahkan untuk mencontohnya?

    1. Nabi Nuh ‘Alahi salam sebagai rasul yang pertama kali diutus ke muka bumi ini adalah salah satu dari ulul ‘azmi. Beliau diutus kepada kaum yang pertama kali menumbuhkan akar kesyirikan di muka bumi. Tahukah anda bagaimana besar tantangan yang dihadapi? Coba anda renungkan ketika seseorang ingin mencabut sebuah pohon yang sangat besar yang akarnya telah menjalar ke segala penjuru, sungguh betapa berat pengorbanannya. Allah sendiri telah memberitahukan kepada kita dengan firman-Nya:

    “Dan demikianlah kami menjadikan bagi setiap para nabi seorang musuh dari syetan baik dari kalangan jin dan manusia.”(Al An’am: 112)

    Yang dipilih pertama kali dari sederetan kaumnya yang menghadang dakwah beliau adalah keluarga yang paling dekat anak dan isterinya. Dengan perjuangan yang panjang dan berat, beliau dengan kesabaran bisa meraih kemenangan di dunia dan di akhirat. Allah mengatakan tentang beliau:

    “Sesungguhnya dia adalah hamba-Ku yang bersyukur.” ( Al Isra’: 3)

    2. Nabi Ibrahim ? sebagai bapak orang-orang yang bertauhid juga sebagai salah satu ulul ‘azmi. Mendobrak keangkaramurkaan yang dilakukan oleh bapaknya sendiri dan kaumnya yang dipimpin oleh seorang raja yang dzalim. Bagaimanakah perasaan anda jika anda diusir dari belaian kasih sayang dan perlindungan bapak anda? Bapaknya yang dipilih oleh Allah untuk menghadang dakwah beliau yang berada di bawah cengkeraman raja yang mengaku diri sebagai tuhan. Dia harus menelan pil pahit angkara murka kaumnya yang dengan tega melempar Nabi Ibrahim ke dalam kobaran api yang sangat dahsyat. Namun apakah yang mereka bisa perbuat terhadap jasad beliau? Sia-sialah perbuatan mereka.

    Di sisi lain beliau harus juga menerima ujian yang lebih pahit yaitu amanat dari Allah untuk menyembelih putra yang disayangi dan diharapkan sebagai calon penerusnya. Bisakah anda membayangkan hal yang demikian itu? Kesabaranlah yang menyelamatkan dari semua ujian dan cobaan yang menimpa beliau.

    3. Nabi Musa dan ‘Isa adalah dua rasul yang diutus kepada Bani Israil dan sekaligus sebagai ulul ‘azmi. Tantangan yang dihadapi beliau berdua, tentu tidak jauh berbeda dengan para pendahulunya dari kalangan para rasul Allah. Siapa yang tidak mengenal Fir’aun si raja kufur yang menobatkan dirinya sebagai Rabb semesta alam, raja tak berperikemanusiaan yang membunuh anak-anak yang menurutnya akan bisa menggoyahkan tahta kekuasaannya. Kesabaranlah yang menjadi kuncinya sehingga beliau berdua dibebaskan dari segala bentuk tantangan dan ujian yang sangat dahsyat.

    4. Nabi Muhammad sebagai nabi penutup dan imam para rasul juga termasuk salah satu dari ulul ‘azmi. Yang diutus kepada semua umat yang berada di atas dekadensi moral, kejahiliyahan dan keberingasan. Tentu tantangan yang beliau hadapi tidak kalah hebat dengan para rasul pendahulu beliau. Para rasul pendahulu beliau hanya diutus kepada kaum tertentu sedangkan beliau diutus kepada seluruh umat. Ini menggambarkan betapa besar tantangan yang beliau harus hadapi. Allah memilih keluarga beliau yang paling dekat menjadi penjegal perjalanan dakwah beliau. Mereka tidak berbeda dengan kaum sebelumnya dalam memusuhi para rasul Allah. Kesabaranlah yang menjadi kunci semua perjuangan beliau.

    Anda pasti menginginkan keberhasilan dalam setiap usaha yang anda lakukan. Maka dari itu jadikanlah seluruh para Nabi dan Rasul Allah sebagai suri tauladan anda dalam kesabaran sehingga anda akan mendapatkan keberhasilan seperti apa yang mereka telah dapatkan.

    Abdurrahman As Sa’di mengatakan di dalam tafsir beliau: “Dan adapun orang yang telah diberikan taufiq oleh Allah untuk bersabar ketika ditimpa ujian lalu dia menahan dirinya untuk tidak benci terhadap ketentuan tersebut baik dengan ucapan dan perbuatan dan berharap pahala dari Allah dan dia mengetahui bahwa apa yang dia dapatkan dari pahala karena kesabaran tersebut atas musibah yang menimpanya, bahkan baginya ujian itu menjadi nikmat karena telah menjadi jalan terwujudnya sesuatu yang lebih baik, maka sungguh dia telah melaksanakan perintah Allah dan berhasil meraih ganjaran yang besar dari sisi-Nya.”

    Macam-macam Sabar dan Keutamaannya

    Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Madarijus Salikin (2/156) berkata: “Sabar ada tiga macam yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dalam menahan diri dari bermaksiat kepada Allah dan sabar dalam menghadapi ujian.”

    Al Imam Al Qurthubi dalam tafsir beliau menukilkan ucapan Sahl bin Abdillah At Tasturi: “Sabar ada dua macam yaitu sabar dari bermaksiat kepada Allah maka ini adalah seorang mujahid; dan sabar dalam ketaatan kepada Allah ini yang dinamakan ahli ibadah.”

    Ibnul Qayyim di dalam kitab beliau Madarijus Salikin (2/155) mengatakan: “Sabar dalam keimanan bagaikan kepala pada jasad; dan tidak ada keimanan tanpa sabar sebagaimana jasad tidak akan berfungsi tanpa kepala.”

    Umar bin Al Khaththab berkata: “Kami menjumpai kebaikan hidup ada bersama kesabaran.”

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Kepemimpinan dalam agama akan didapati dengan yakin dan sabar.” Allah berfirman:

    “Dan Kami menjadikan dari mereka sebagai pemimpin yang berjalan di atas perintah Kami ketika mereka bersabar dan mereka yakin kepada ayat-ayat Kami.” (As Sajdah: 24)

    Rasulullah bersabda: “Tidak ada satupun pemberian kepada seseorang yang lebih baik daripada sabar.” ( HR. Muslim).

    “Sabar adalah cahaya.” ( HR. Muslim).

    Allah berfirman:

    “Dan Kami benar-benar akan membalas mereka yang bersabar dengan balasan yang lebih baik daripada apa yang mereka telah lakukan.” (An Nahl: 96) Wallahu a’lam.

    Pembagian Sabar Dalam Kaitannya Dengan Sang Pelaku
    Dalam kaitannya dengan pelaku, sabar bisa dibagi tiga: sabar untuk mengerjakan perintah dan ketaatan kepada Allah, sabar untuk meninggalkan perbuatan maksiat dan yang bertentangan dengan perintah Allah sehingga dia tidak terjerumus di dalamnya, dan sabar atas berbagai ketentuan dan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah kepadanya tanpa keluh kesah.

    Tiga macam kesabaran ini adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh ‘Abd al-Qadir dalam kitab Futuh al-Ghaib. Seorang hamba haruis bersabar dalam mengerjakan perintah, menjauhi segala larangan dan menerima semua takdir Allah.

    Pembicaraan tentang hal ini berhubungan erat dengan dua sisi : Pertama, hubungannya dengan Allah. Kedua, hubungannya dengan hamba itu sendiri.

    Sisi yang berhubungan dengan Allah: yaitu, sesungguhnya Allah menetapkan dua hukum atas hambaNya: Pertama hukum syara’ keagamaan, dan kedua, hukum alam dan takdir. Hukum syara’ berhubungan erat dengan perintah Allah. Hukum alam berhubungan erat dengan makhluk. Maksudnya, Allah mempunyai makhluk dan perintah.

    Hukum keagamaanNya yang bersifat tuntutan itu terbagi dua lagi dari segi tuntutan: tuntutan yang disenangi Allah dan diwajibkan kepada hambaNya. Status hukumnya bisa wajib ataupun sunnah. Hal ini tidak akan bisa terlaksana kecuali dengan keasbaran.

    Kalau tuntutan itu berhubungan dengan sesuatu yang dibenci Allah, maka hamba wajib meninggalkan dan menghindarinya. Status hukumnya bisa haram ataupun makruh. Pelaksanaan hal ini juga tergantung sepenuhnya pada kesabaran pelaku. Demikianlah hukum syara’ dari Allah.

    Adapun hukum alam dari Allah adalah segala sesuatu yang telah ditentukan dan ditetapkan atas hamba. Berupa musibah yang tidak bisa dielakan lagi. Di sini hamba hanya bisa berlaku sabar.

    Tentang kewajiban untuk rela dan ridha atas segala musibah yang diterima ada dua pendapat. Dalam mazhab Ahmad bin Hambal sendiri ada dua pendapat. Akan tetapi yang paling shahih adalah bahwa kewajiban untuk berlaku rela itu adalah sebuah hal yang dianjurkan. Karena itu, semua ajaran agama pada ujungnya bertumpu pada tiga kaidah utama: mengerjakan perintah, menjauhi larangan dan menerima semua ketentuan.

    Sedangkan dari sisi hamba, seorang hamba tidak bisa lepas dari tiga hal diatas ini selama dia berada dalam kondisi taklif. Tiga hal ini tidak akan terputus darinya kecuali kalau taklif sudah lepas darinya.

    Usaha untuk menjalankan perintah, meninggalkan larangan dan sabar atas takdir tidak akan bisa terwujud tanpa kesabaran. Sebagaimana halnya mayang padi tidak akan bisa tumbuh tanpa akar yang kuat. Sabar berkaitan erat dengan perintah, larangan dan takdir Allah atas semua hamba.

    Orang tua biasanya hanya akan menekankan tiga hal diatas, dia hanya bisa berpesan kepada anaknya: “Wahai anakku hendaknya kamu mengerjakan perintah, menjauhi larangan dan sabar atas segala ketetapan.”

    Tiga hal ini adalah seperti yang diwasiatkan oleh Luqman al-Hakim kepada anak-anaknya sebagaimana terekan dalam firman Allah sebagai berikut ini :

    “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.” (QS. Luqman: 17)

    Perintah untuk mengerjakan kebaikan mencakup perintah kepada dirinya sendiri ataupun perintah kepada orang lain. Demikian juga larangan terhadap perbuatan munkar.

    Secara lafazh, memang ada perintah untuk selalu menasihati diri sendiri dan orang lain dalam mengingat hal itu. Akan tetapi dari sudut pandang ketetapan syara’, sesungguhnya perintah dan larangan itu tidak akan bisa berjalan sebelum orang yang melarang atau memerintah itu mengerjakan sendiri semua ucapannya.

    Allah juga telah menyebutkan tigal di atas dalam firman-Nya :

    “Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian, dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang Itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (QS. AR-Ra’d: 19-22)

    Allah telah menggabungkan tiga hal ini dengan maqam Islam dan iman. Allah menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang telah menepati janji. Janji yang dimaksud di sini mencakup pelaksanaan perintah dan peninggalan larangan sebagaimana telah ditentukan antara Dia dengan mereka. Antara mereka dengan makhluk lainnya. Allah juga mengabarkan tentang sifat mereka yang selalu menepati janji tanpa adanya niat untuk mengingkarinya sedikit pun.

    Allah melukiskan mereka sebagai orang-orang yang selalu menyampaikan apa saja yang diperintahkan Allah untuk menyampaikannya. Termasuk dalam hal ini sisi lahir dan batin agama, hak Allah dan hak hamba.

    Mereka berusaha mewujudkan hubungan yang baik antara manusia dengan Tuhan dengan cara menyembah-Nya tanpa sekutu, taat kepada-Nya, kembali kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya, mencintai-Nya, takut kepada-Nya, berharap kepada-Nya, bertaubat kepada-Nya, berlaku rendah hati kepada-Nya, mengakui semua nikmat-Nya, bersyukur atasnya, mengakui segala kesalahan dan meminta ampun kepada-Nya. Ini adalah pemenuhan janji hamba terhadap Allah.

    Allah memerintahkan hamba untuk menekuni ber¬bagai sarana yang bisa menyambungkan perjanjian antara Allah dengan manusia. Allah juga memerintahkan untuk menyambungkan ikatan perjanjian yang terjalin antara kita dengan rasul-Nya dengan beriman kepadanya, membenar¬kan risalahnya, menerima keputusannya dalam segala sesuatu, ridha terhadap hukumnya, dan mengembalikan segala urusan agama kepadanya.

    Dia harus lebih mengedepankan cinta kepada Ra¬sulullah SAW daripada kepada dirinya sendiri, anak-anak, orang tua dan semua manusia. Mudahan-mudahan shalawat Allah senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW.

    Termasuk dalam hal ini adalah melaksanakan hak Allah dan hak rasul-Nya. Allah memerintahkan untuk me¬wujudkan hubungan yang harmonis antara kita dengan orang tua dan para kerabat. Karena Allah telah memerintah¬kan untuk berbuat baik kepada orang tua dan menyambung tali silaturrahim. Ini termasuk perbuatan yang harus dilaku¬kan.

    Allah juga memerintahkan kita untuk berlaku baik kepada para istri dengan menunaikan hak dan menggauli mereka dengan sebaik-baiknya. Allah memerintahkan kita untuk menjalin hubungan baik dengan para buruh kita. Yakni dengan cara kita memberikan makan mereka, sama dengan yang kita makan. Memberikan pakaian mereka, sama dengan yang kita pakai. Dan tidak menimpakan beban yang terlalu berat sehingga mereka tidak mampu untuk me¬mikulnya.

    Allah juga memerintahkan kita untuk menjalin hubungan akrab dengan para tetangga, baik yang dekat ataupun jauh. Caranya adalah dengan menghormati hak-hak mereka, menjaga diri, harta dan keluarga mereka sebagaimana kita menjaga diri, harta dan keluarga kita. Allah memerintahkan kita untuk menjalin hubungan baik dengan para rekan, baik dalam perjalanan atau mukim.

    Hendaknya kita pun menjalin hubungan baik dengan manusia secara umum. Dengan memperlihatkan sikap yang mereka sukai dan tidak mengerjakan apa saja yang tidak mereka sukai. Kita juga dianjurkan menjalin hubungan baik dengan malaikat penjaga dan pencatat amal kita, dengan cara mengagungkan dan bersikap malu kepada mereka sebagaimana kita duduk di sebelah orang lain yang sangat dihormati dan diagungkan. Ini adalah perilaku yang diwajibkan oleh Allah untuk diterapkan.

    Allah melanjutkan gambaran-Nya tentang orang-orang yang menerapkan prinsip ini. Yaitu mereka takut kepada Allah, khawatir akan nasib sial pada hari penghitungan dan hari akhirat. Seseorang tidak mungkin menjalankan perintah Allah di atas kecuali dengan takut kepada Allah. Ketika rasa takut kepada Allah musnah, maka tindakan untuk mengerjakan perintah-Nya pun tidak akan terlaksana.

    Kernudian Allah menjelaskan bahwa mereka semua berangkat dari satu titik. Sebuah titik di mana semua orang pasti akan bertumpu, berputar dan kembali kepadanya, yaitu kesabaran. Sebagaimana firman Allah:

    “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhan meraka.”

    Allah menerangkan, kesabaran saja tidak cukup, harus dimantapkan dengan keikhlasan untuk mencari ridha Allah.

    Lantas Allah menjelaskan langkah yang dapat mem¬bantu praktek kesabaran ini, yaitu shalat. Ini seperti firman Allah:

    “Dan mendirikan shalat.”

    Kedua hal ini, sabar dan shalat, adalah pilar pendukung terkuat bagi kemaslahatan dunia dan akhirat.
    Allah berfirman:

    “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,” (QS. al-Baqarah: 45).

    Dan Allah berfirman:

    “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguh¬nya Allah beserta orang-orang yang sabar,” (QS. al-Baqarah: 153).

    Allah juga melukiskan, betapa baiknya perbuatan mereka dengan memberikan bantuan kepada orang-orang lain, secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan. Di sini sudah jelas sekali, mereka membenahi diri dengan cara sabar dan shalat dan berbuat baik kepada orang lain.

    Allah mengisahkan sikap mereka ketika dibodohi dan diganggu oleh orang lain: mereka sama sekali tidak mem¬balasnya. Bahkan membalas perbuatan jahat dengan perbuatan baik. Mereka berlaku baik kepada orang yang jahat kepada mereka. Allah berfirman:

    “Serta menolak kejahatan dengan kebaikan.”

    Ayat ini juga ditafsirkan lain oleh para ulama. Mereka memahaminya bahwa orang-orang yang punya sifat seperti ini biasanya mengikuti setiap perbuatan buruk mereka dengan perbuatan baik. Sebagaimana difirmankan oleh Allah:

    “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu meng¬hapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk,” (QS. Hud: 114).

    Rasulullah SAW bersabda: “Ikutilah setiap perbuatan burukmu dengan perbuatan baik sehingga bisa menghapusnya.”‘ Akan tetapi hemat saya, ayat ini mencakup dua hal di atas.

    Maksudnya, ayat ini mencakup sejumlah kaidah Islam dan iman, yakni: mengerjakan perintah, meninggalkan larangan dan sabar atas segala ketetapan dan takdir.

    Allah menyebutkan tiga landasan ini:

    “Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa,” (QS. Ali Imran: 125).

    Firman-Nya:

    “Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar.” (QS. Yusuf: 90).

    Firman-Nya:

    “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuat¬kanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu ber¬untung,” (QS. Ali `Imran: 200).

    Setiap perkara yang dibarengi dengan sabar dan takwa mencakup tiga hal di atas. Karena takwa itu sendiri adalah mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-¬Nya.

  2. Inspiring, pak! Terima kasih atas pencerahannya :)

  3. bevira prasilia said on

    thanks for ur inpiring

  4. yaa ALLAH jadikanlah daku hambamu ini orang yang sabar ,tabah, tawakkal,
    ingat kepadamu,beribadah kepadamu,ta’at – tunduk – patuh kepada semua
    perintahmu,menjauhi segala laranganmu,istiqomah,percaya diri,tangguh,te
    guh,tegar menghadapi tantangan kehidupan ini,mempunyai sandaran dan pijakan yang kokoh padamu sang maha komputer ALLAH SWT ,tekun,rajin,
    tidak mudah putus asa,tidak gampang goyah,tidak mutungan,ulet.gigih .mampu dan bisa mengatasi coba’an maupun goda’an kehidupan yang kom
    pleks ini.kasihanilah hambamu ini.sayangilah hambamu ini,cintailah ham -
    bamu ini,eman2ilah dan welasilah hambamu ini ,tuntunlah hambamu jadi-
    kanlah menjadi mahluk yang berguna bagi sesama manusia,bermanfa’at
    bagi orang lain.berguna bagi masyarakat disekitar hambamu ini,bermanfa’at bagi masyarakat luas ,berguna bagi nusa-bangsa dan a-
    gamamu agama islam – kelak berikanlah syafa’at rosulmu kepadaku kumpulkanlah daku bersama para ahli ibadah,para alim,para tabi’it dan tabi’in para golongan orang2 yang bertobat masukkanlah hambamu ini
    dalam satu barisan panji2 dibelakang ROSULULLOH utusanmu,pesu -
    ruhmu dan rosulmu beserta para sahabat. diriku hambamu ini mengemis kepadamu,nyuwun kepadamu,minta padamu,menengadah-
    kan tangan padamu, hambamu ini meminta rakhmat-taufiq-hidayah dan
    ridho kepadamu .kabulkanlah do’aku,kabulkanlah perminta’anku,kabul -
    kanlah apa yang daku inginkan dan yang daku maui . hanya dikaulah
    tempat sabar itu……….amien yaa robbal alamien 3X

Leave a Reply

Spam Protection by WP-SpamFree