MERAJUT IMPIAN Motivasi, Tips dan Trik Sukses Dunia Akhirat

Archives

Categories

  • Mukmin bermental kaya

    bagaimana menjadi mukmin bermental kaya?

    Beberapa orang berpendapat, bahwa kaya itu hanya milik orang yang mau dan punya mental kaya. Sebagai contoh , orang yang bermental kaya setiap kali memiliki harta akan terlebih dahulu mengupayakan terajadinya pertambahan nilai baik dengan menabung atau investasi.

    Sementara orang yang bermental miskin saat memperoleh harta cenderung menghabiskan hartanya. Ah, mumpungu punya uang, untuk apa disimpan-simpan, habiskan aja. Belum tentu dapat kesempatn lagi.
    Di dalam ajaran Islam, terdapat banyak sekali kesempatan untuk memberi nilai tambah dalam hal kekayaan. Baik yang berwujud materil maupun non materi.

    Allah subhaanahu wata’ala berfirman : “ perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) oarng-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa denga sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir ada seratus biji. Allah akan melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. ( QS : 2 : 61)

    Begitu pula yang disebutkan dalam hadits “ harta yang dizakati tidak akan pernah susut (berkurang) (HR. Muslim)
    Namun, meski begitu gamblang diungkapkan dalam Al Quran dan Al Hadits, masih banyak orang yang enggan dan berat untuk berinfak, sedekah , dan zakat. Masih lebih ringan mengeluarkan uang Rp. 100 ribu untuk ke mall, rekreasi, atau sekedar makan-makan, namun berat mengeluarkan Rp. 50 ribu untuk berinfak.

    Berbeda dengan generasi para shahabat, mereka memiliki mental kaya dalam diri mereka. Sebut saja shahabat Abu Dzar Al Gifari. Walau mendapat gelar bapak kaum miskin, namun ia justru bermental sangat kaya. Kala datang tamu, Abu Dzar meminta kepada pelayannya untuk menyembelih seekor kambing kualitas terbaik. Namun pelayannya menyembelih kambing kualitas nomor dua. Mengetahui hal itu, Abu Dzar marah dan menegur pelayannya. Karena ia ingin harta terbaiknyalah yang menjadi harta abadinya, kekal dan berlipat-lipat ganda nilai kebaikannya. Itulah harta yang dikeluarkannya dengan ikhlas untuk memuliakan tamunya.

    Ah, bagaimana kita mau sedekah, wong kita aja miskin. Kebutuhan kita aja masih kurang. Itulah orang bermental miskin memberi alasan, padahal, islam memudahkan ummatnya untuk menjadi kaya, seperti tertuang dalam hadits, “ mendamaikan dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang hingga ia dapat naik kendaraan, atau mengangkatkan barang bawaan keatas kendaraanya merupakan sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, setiap langkah kaki yang engkau ayunkan menuju ke masjid adalah sedekah, dan menyingkirkan aral rintangan yang mengganggu dari jalan adalah sedekah.” ( HR. Bukhori dan Muslim). Bahkan seulas senyumpun merupakan sedekah.

    Tak mampu juga memberi seutas senyum kepada keluarga kita, rekan kerja, klien, tetangga, customer kita? Innalillaahi wainnaa ilaihi rooji’un.
    Semoga kita menjadi orang yang bermental kaya. Kaya harta dan kaya hati.
    Semoga sukses dunia akhirat

    Related Post

    Published on June 2, 2010 · Filed under: Bisnis Akhirat; Tagged as: , , , , , ,
    1 Comment

One Response to “Mukmin bermental kaya”

  1. Cerita yang bagus, gak dibawa ke percetakan aja? :)

Leave a Reply

Spam Protection by WP-SpamFree